Survei HSBC Tunjukkan Tingginya Tingkat Optimisme Segmen Premium Di Indonesia Terhadap Iklim Investasi

**Segmen premium Indonesia, Cina dan India didominasi oleh generasi yang lebih muda**
**63% segmen premium Indonesia berencana meningkatkan investasi**
**Kebutuhan pengelolaan keuangan semakin besar**

 

Says HSBC SurveySurvei HSBC terhadap segmen pasar premium di kawasan Asia memperlihatkan tren yang positif, dimana sebagian besar dari segmen ini berhasil mempertahankan atau bahkan meningkatkan kekayaan mereka dibandingkan periode enam bulan lalu. HSBC Affluent Asian Tracker ini juga memperlihatkan bahwa kalangan investor di Asia mulai di donimasi oleh genersi yang lebih muda, yang turut ambil bagian dalam pengembangan ekonomi di salah satu pasar paling potensial di dunia ini.

Setidaknya (80%) segmen premium yang disurvei di Indonesia memiliki kekayaan yang sama atau meningkat. Secara khusus, (51%) mengalami peningkatan kekayaaan dalam enam bulan terakhir dan (29%) tetap. Segmen premium di Cina adalah yang tertinggi dalam hal pertumbuhan kekayaan jika dibandingkan dengan kondisi mereka enam bulan lalu (69% responden di Cina mengalami pertumbuhan kekayaan), diikuti oleh Malaysia (58%). (lihat slide 9).

affluent with change in total net worth over last 6 months

Survei HSBC Affluent Asian Tracker ini merupakan yang ketiga kalinya, sebagai kelanjutan dari survei serupa yang dilakukan pada kuartal IV tahun lalu. Survei gelombang ketiga ini dilakukan terhadap 2.072 individu segmen premium, berumur 18-65 di tujuh negara, termasuk: Hong Kong, India, Indonesia, mainland China (Cina), Malaysia, Singapore dan Taiwan; merupakan yang kedua kalinya bagi Indonesia. Survei diadakan pada bulan Februari hingga April 2010 - mendata pandangan orang dalam top 10 populasi berdasarkan pandapatan ataupun aset likuid. (lihat slide 2)

Rata-rata usia individual segmen premium di Indonesia adalah di antara yang termuda di kawasan Asia, yakni 39 tahun, dengan profil 7 dari 10 diantaranya menikah dan memiliki anak. Sedikit berbeda,  Cina memiliki rata-rata usia 36 tahun dan India 38 tahun. Sementara itu profil segmen premium di Hong Kong lebih didominasi oleh gerenasi tua, rata-rata 48 tahun, dimana hampir 4 dari 10 diantaranya double income couples with no kids (DINKS). Secara keseluruhan hampir 10% segmen premium di kawasan Asia, kecuali Taiwan adalah belum menikah. (lihat slide 5 & 6)

Bruno Lee, Regional Head of Wealth Management Asia-Pacific, mengatakan : "Generasi muda Asia dengan tingkat mobilitas pekerjaan tinggi, kini sedang terus berkembang dan siap menjadi generasi segmen premium. Bersamaan dengan itu, kebutuhan pengelolaan keuangan mereka pun semakin penting. Di banyak negara Asia, investasi, terutama equity lokal telah menjadi pendorong utama perkembangan kekayaan ini. Namun bagi generasi segmen premium baru, terutama di Cina tengah berkembang menjadi para investor yang optimis, dimana mereka juga melihat aset-aset di luar negeri sebagai kesempatan diversifikasi investasi mereka.”

Aset Liquid
Hampir separuh aset liquid di kawan Asia merupakan produk deposito, bahkan 95% segmen premium di Indonesia menempatkannya dalam deposito (uang tunai). Berbeda halnya dengan Cina dan sekitarnya, setidaknya lebih dari 40% aset liquid dari para individual segmen premium diinvestasikan pada reksadana, unit trust serta instrumen investasi lainnya. (Hong Kong 44%, Taiwan 42% dan mainland Cina 41%) serta India (40%). (Lihat slide 7)

Portofolio Investasi
Dapat dikatakan segmen premium Indonesia memiliki tingkat diversifikasi portofolio investasi yang terendah jika dibanding dengan segmen premium lainnya di kawasan Asia. Setidaknya, saat ini 7 dari 10 individu segmen premium di Cina berinvestasi dalam equity, bahkan Hong Kong adalah yang tertinggi dengan 87. (Lihat slide 10)

Rencana Pengembangan investasi - Segmen Premium Indonesia Optimis
Rata-rata segmen premium Asia berencana untuk menambah jumlah dan tingkat investasi mereka. Jika pada survey sebelumnya di bulan Oktober, 51% responden Indonesia berencana meningkatkan investasi, kali ini angka menunjukan peningkatan, dimana 63% responden berencana meningkatkan investasi mereka untuk enam bulan kedepan. Angka ini merupakan yang tertinggi di banding dengan negara lainnya di Asia; disusul oleh India (60%) dan Malaysia (45%).

Bahkan 38% responden di Indonesia juga berniat untuk mempelajari strategi investasi lebih mendalam. (meningkat dari sebelumnya 9%) dan 19% secara spesifik berniat melakukan konsultasi dengan penasihat keuangan secara lebih berkala. (meningkat dari sebelumnya 4%)  hanya 1% yang berencana mengurangi investasi mereka. (Lihat slide 11)

Bruno Lee menambahkan : “Secara umum survey ini menyatakan bahwa segmen premium di Asia masih relatif sedikit yang  berinvestasi di dalam produk-produk investasi yang dikelola secara profesional, seperti reksadana. Hal ini mungkin berhubungan dengan akses dan peraturan yang berlaku di masing-masing negara. Namun demikian, segmen premium yang baru di kawasan Asia ini semakin dewasa sebagai investor, dimana mereka tidak dengan mudahnya beralih kepada produk investasi yang mereka tidak mengerti serta merekapun cepat menyesuaikan strategi investasi mereka sebagai reaksi dari perubahan pasar.”

Index resiko HSBC Affluent Asian
Survey juga mengkalkulasi risk index1 untuk mengukur sifat dan perilaku terhadap keamanan dan pertumbuhan. Dalam skala 0-200 dimana 0 menyatakan keamanan dan 200 adalah pertumbuhan. Rata-rata  pasar menjawab hampir pada tingkat tengah (skala 100), yakni perilaku yang memandang resiko secara seimbang, dibandingkan dengan 6 bulan lalu. Indonesia (100), India (100) dan Cina (99). Pasar yang lebih dewasa (mature) seperti Taiwan (89), Malaysia (89), Singapura dan Hong Kong (82) memperlihatkan pergesaran orientasi kearah yang lebih “aman” dalam strategi investasi mereka. (Lihat slide 13)

Masih dalam profil resiko, enam dari 10 segmen premium di Cina (66%), India (64%) dan Hong Kong (62%) memiliki perilaku yang moderat terhadap resiko investasi. Lebih banyak individu premium di Singapura (47% sebelumnya 29%) dan Taiwan (36% sebelumnya 18%) yang kini berorientasi pada capital protection dibanding enam bulan sebelumnya. Investor dari negara-negara berkembang, seperti Indonesia (25%) dan Malaysia (23%) cenderung lebih terbuka pada resiko dibanding negara lainnya di Asia. (Lihat slide 14)

***

Untuk informasi lebih lanjut:
Laine Santana +852 2822 4918 lainesantana@hsbc.com
Jane Yuen +852 2822 4937 janeyuen@hsbc.com.hk
Andrew Hallatu +62 21 3040 5382 andrewhallatu@hsbc.co.id

Catatan kaki:
1: The HSBC Affluent Asian investment risk index measures propensity towards growth or security using 5 measures or attributes for each. The scores are calculated into an index from 0-200 (100 is the mean), where a higher score represents a stronger propensity towards growth and a lower score, a stronger propensity towards security. More details available in the HSBC Affluent Tracker July 2010 report attached.

Catatan untuk editor:

1.

Informasi detail tentang HSBC Affluent Tracker

 

Lihat lampiran HSBC Affluent Asian Tracker - July 2010 . Survey ini dilakukan dari Februari hingga April 2010 di Hong Kong, India, Indonesia, mainland China, Malaysia, Singapore dan Taiwan

2.

HSBC Group

 

The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, adalah pemrakarsa dan bagian terutama dari Grup HSBC, memiliki lebih dari 8,000 properti di 88 negara dan teritori, dengan aset mencapai US$2.364 miliar pada tanggal 31 Desember 2009, HSBC adalah salah satu institusi perbankan dan layanan keuangan internasional terbesar di dunia.

3.

HSBC di Indonesia

 

HSBC telah beroperasi di Indonesia sejak 1884. Saat ini telah menyediakan layanan finansial individu dan korporasi melalui 110 kantor yang tersebar di  10 kota di Indonesia: Jakarta (World Trade Centre, Pondok Indah, Kebon Jeruk, Sentral Senayan, Pluit, Kelapa Gading, Mangga Dua, Wisma 46, Melawai, Sunter, BSD, Gajah Mada, Plaza Kuningan, dan Talavera), Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, Solo, Batam, Bogor, Tangerang dan Depok. HSBC merupakan leading providerdari layanan perbankan individu, korporasi, komersial, institusional, treasury capital market,danperbankan Syariahdi Indonesia.