|
Survei HSBC Tunjukkan Tingginya Tingkat Optimisme Segmen Premium Di Indonesia Terhadap Iklim Investasi |
||||||||||||||||
|
Setidaknya (80%) segmen premium yang disurvei di Indonesia memiliki kekayaan yang sama atau meningkat. Secara khusus, (51%) mengalami peningkatan kekayaaan dalam enam bulan terakhir dan (29%) tetap. Segmen premium di Cina adalah yang tertinggi dalam hal pertumbuhan kekayaan jika dibandingkan dengan kondisi mereka enam bulan lalu (69% responden di Cina mengalami pertumbuhan kekayaan), diikuti oleh Malaysia (58%). (lihat slide 9).
Survei HSBC Affluent Asian Tracker ini merupakan yang ketiga kalinya, sebagai kelanjutan dari survei serupa yang dilakukan pada kuartal IV tahun lalu. Survei gelombang ketiga ini dilakukan terhadap 2.072 individu segmen premium, berumur 18-65 di tujuh negara, termasuk: Hong Kong, India, Indonesia, mainland China (Cina), Malaysia, Singapore dan Taiwan; merupakan yang kedua kalinya bagi Indonesia. Survei diadakan pada bulan Februari hingga April 2010 - mendata pandangan orang dalam top 10 populasi berdasarkan pandapatan ataupun aset likuid. (lihat slide 2) Rata-rata usia individual segmen premium di Indonesia adalah di antara yang termuda di kawasan Asia, yakni 39 tahun, dengan profil 7 dari 10 diantaranya menikah dan memiliki anak. Sedikit berbeda, Cina memiliki rata-rata usia 36 tahun dan India 38 tahun. Sementara itu profil segmen premium di Hong Kong lebih didominasi oleh gerenasi tua, rata-rata 48 tahun, dimana hampir 4 dari 10 diantaranya double income couples with no kids (DINKS). Secara keseluruhan hampir 10% segmen premium di kawasan Asia, kecuali Taiwan adalah belum menikah. (lihat slide 5 & 6) Bruno Lee, Regional Head of Wealth Management Asia-Pacific, mengatakan : "Generasi muda Asia dengan tingkat mobilitas pekerjaan tinggi, kini sedang terus berkembang dan siap menjadi generasi segmen premium. Bersamaan dengan itu, kebutuhan pengelolaan keuangan mereka pun semakin penting. Di banyak negara Asia, investasi, terutama equity lokal telah menjadi pendorong utama perkembangan kekayaan ini. Namun bagi generasi segmen premium baru, terutama di Cina tengah berkembang menjadi para investor yang optimis, dimana mereka juga melihat aset-aset di luar negeri sebagai kesempatan diversifikasi investasi mereka.” Bahkan 38% responden di Indonesia juga berniat untuk mempelajari strategi investasi lebih mendalam. (meningkat dari sebelumnya 9%) dan 19% secara spesifik berniat melakukan konsultasi dengan penasihat keuangan secara lebih berkala. (meningkat dari sebelumnya 4%) hanya 1% yang berencana mengurangi investasi mereka. (Lihat slide 11) Bruno Lee menambahkan : “Secara umum survey ini menyatakan bahwa segmen premium di Asia masih relatif sedikit yang berinvestasi di dalam produk-produk investasi yang dikelola secara profesional, seperti reksadana. Hal ini mungkin berhubungan dengan akses dan peraturan yang berlaku di masing-masing negara. Namun demikian, segmen premium yang baru di kawasan Asia ini semakin dewasa sebagai investor, dimana mereka tidak dengan mudahnya beralih kepada produk investasi yang mereka tidak mengerti serta merekapun cepat menyesuaikan strategi investasi mereka sebagai reaksi dari perubahan pasar.” Index resiko HSBC Affluent Asian Masih dalam profil resiko, enam dari 10 segmen premium di Cina (66%), India (64%) dan Hong Kong (62%) memiliki perilaku yang moderat terhadap resiko investasi. Lebih banyak individu premium di Singapura (47% sebelumnya 29%) dan Taiwan (36% sebelumnya 18%) yang kini berorientasi pada capital protection dibanding enam bulan sebelumnya. Investor dari negara-negara berkembang, seperti Indonesia (25%) dan Malaysia (23%) cenderung lebih terbuka pada resiko dibanding negara lainnya di Asia. (Lihat slide 14) *** Untuk informasi lebih lanjut: Catatan kaki: Catatan untuk editor:
|
||||||||||||||||