Bencana alam bisa datang tanpa diduga sebelumnya. Tidak seorang pun bisa menghindar karena alam memiliki kemauannya sendiri. Tak ada yang bisa memprediksi secara tepat kapan bencana akan terjadi, bahkan peralatan tercanggih pun masih kalah hebatnya dengan kekuasaan alam. Tak pelak terkadang puluhan bahkan ribuan orang menjadi korban. Korban yang menderita tidak hanya menderita luka fisik dan kehilangan harta benda ,terkadang mereka juga harus kehilangan keluarga maupun kerabat yang dikasihi. Tak hanya berhenti disitu bencana juga memberi dampak pada masalah sosial. Masalah-masalah itulah yang harus dengan segera mendapatkan perhatian agar tidak melebar.
Hal-hal itulah yang membuat HSBC Kita menyadari akan pentingnya membantu dan menolong. Berkomitmen untuk saling bahu-membahu membantu program pemulihan. Melalui komitmen inilah HSBC Kita diharapkan menjadi jembatan bagi para korban, staff HSBC, nasabah, serta masyarat yang peduli.
Sebelas tahun yang lalu Tembi adalah sebuah desa biasa di daerah Jawa, berada ditengah-tengah kabupaten Bantul, 8.5 km dari kota Yogyakarta, sama seperti desa-desa tetangga yang dihuni oleh penduduk yang berpendapatan rendah dari hasil pertanian.
Situasi jalan yang rusak dan belum di aspal, rumah-rumah yang kurang layak dihuni, dan situasi keluarga memprihatinkan yang selalu berjuang untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari atau menyekolahkan anak-anak adalah gambaran umum di desa itu. Keadaan yang serba terbatas dan memprihatinkan tampak tidak memungkinkan penduduk desa untuk meningkatkan taraf hidup mereka di sana.
Apa yang dilihat oleh Warwick Purser adalah kemampuan dan kreativitas yang tinggi untuk membuat kerajinan. Bisnis kerajinan tangan di Indonesia dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk ratusan ribu orang dengan adanya Yogyakarta yang telah terkenal sebagai sebagai pusat kebudayaandan pusat industri kerajinan. Warwick mengetahui bahwa hal ini merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membangun kerjasama yang saling menguntungkan antara perusahaan dengan masyarakat Tembi, dan segera mendirikan perusahaan bernama Out of Asia. Dengan memanfaatkan kemampuan masyarakat desa dan material berkualitas, mereka mulai merasakan kesempatan bekerja penuh yang dapat membantu meningkatkan standar ekonomi hidup mereka.
Dalam kurun waktu lima tahun, Tembi berubah dari desa tertinggal dengan keterbatasan peluang kerja menjadi sebuah pusat produksi kerajinan tangan yang maju. Desa itu telah berubah menjadi sebuah workshop di mana material-material lokal berkualitas tinggi diolah dengan tangan-tangan ahli menjadi kerajinan siap ekspor ke seluruh dunia. Hasil nyata keuntungan yang didapat dari aktivitas tersebut dapat dilihat pada perubahan yang terjadi di desa tersebut; jalan yang telah diaspal, rumah - rumah yang diperbaiki dan layak tinggal, hingga tersedianya klinik kesehatan, perpustakaan, pusat kebugaran hingga taman bermain anak-anak.
Hingga saat ini Out of Asia mempekerjakan lebih dari 1.000 orang penduduk Tembi sebagai pegawai harian dan dilain pihak, yayasan yang dibiayai oleh perusahaan juga memberikan bantuan pendidikan untuk 140 orang anak-anak dan membantu menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi 40 keluarga yang kurang mampu.
Pada akhirnya Out of Asia menjadi salah satu eksportir kerajinan tangan terbesar di Asia Tenggara dengan mempekerjakan hampir 10.000 orang pengrajin Indonesia, membuat desain serta memproduksi sendiri kerajinan untuk perusahaan ritel di seluruh dunia, seperti Target, Macy's, Habitat, Crate & Barrel, Harrods dan Marks & Spencer.
Tembi telah menjadi contoh kesuksesan pegembangan komunitas untuk masyarakat sekitarnya. Suatu tempat pelatihan serupa bagi para pengrajin dari daerah yang terkena bencana seperti Aceh dan Nias telah didirikan pada tahun 2005 dengan tujuan untuk membangun pusat kerajinan yang sama di Sumatera sehingga dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan menggunakan bahan baku dan talenta daerah setempat. Sebagai langkah selanjutnya, Tembi akan menjadi pusat desain kerajinan internasional yang dibangun bersama dengan Goldsmith’s London University. Tujuan dari program tersebut adalah untuk menyediakan tempat bagi ahli desain internasional agar dapat berbagai keahlian kepada generasi muda setempat sehingga desatersebut dapat membantu mengembangkan standar produksi dan perdagangan kerajinan Indonesia. Pemerintah Indonesia sangat mendukung program tersbut. Desa Tembi telah menjadi contoh untuk projek pembangunan masyarakat dan majalah terkenal seperti TIME telah menulis artikel mengenai desa tersebut dan aktivitasnya.
Bencana tsunami pada bulan Desember 2004 telah membawa kerusakan yang dahsyat di Aceh. HSBC melalui Yayasan Hongkong Bank merupakan salah satu bank yang bertindak cepat dan memberikan donasi USD 1 juta kepada Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah. Selain itu, HSBC menyisihkan tambahan USD 1 juta untuk menggenapi sumbangan dari karyawan HSBC di seluruh dunia dalam membantu pembangunan kembali daerah di negara-negara yang tertimpa bencana tsunami.
Karyawan HSBC di seluruh dunia berperan aktif membantu upaya rehabilitasi dan menyumbangkan berbagai bantuan berupa dana, pakaian, makanan dan obat-obatan. Dana senilai USD 200 ribu juga diserahkan untuk membiayai pembelian kapal bagi para nelayan di Aceh.
HSBC Indonesia dan para karyawannya secara aktif terlibat dalam membantu pemulihan masyarakat Aceh, untuk membangun kembali kehidupan mereka melalui berbagai proyek yang berfokus pada bidang pendidikan dan kesehatan.
HSBC Indonesia memberikan donasi senilai USD 500.000 untuk membangun Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) bagi korban tsunami di Calang. Daerah pemukiman masyarakat nelayan ini berjuang keras untuk membangun kembali infrastukturnya yang hancur, sebagaimana tercermin dari jumlah penduduknya yang turun drastis dari 14.000 menjadi 3.000 jiwa setelah terjadinya bencana. former CEO HSBC Indonesia Richard McHowat menyatakan “Puskesmas merupakan fasilitas yang paling penting. Sebelum dibukanya Puskesmas Calang, daerah ini hampir-hampir tidak berpenghuni dan hanya tenda darurat dengan perawatan kesehatan dasar saja yang tersedia bagi penduduk setempat”.
Hanya dalam waktu satu hari setelah dibuka, Puskesmas yang dirancang untuk dapat dipindah-tempatkan ini telah menangani dan merawat hampir 100 orang pasien; dilengkapi dengan generator dan penyuling air, serta memiliki fasilitas AC, ruang gawat darurat, laboratorium, apotik dan akomodasi untuk 12 orang petugas kesehatan. Untuk mendukung kegiatan operasional Puskesmas, HSBC juga menyediakan obat-obatan untuk kebutuhan selama 3 bulan serta mengadakan pelatihan untuk para perawat sebelum Puskesmas tersebut diserahterimakan kepada Menteri Kesehatan Indonesia, Ibu Siti Fadilah. “Puskesmas ini akan menjadi standar bagi Puskesmas lainnya yang akan dibangun di daerah terpencil di Indonesia. Saya sangat menghargai upaya HSBC yang telah mengambil risiko membangun sarana kesehatan dengan kualitas sebaik ini di salah satu tempat yang paling sulit dijangkau di Aceh”.
HSBC Kita juga mengelola proyek rekonstruksi jangka panjang, antara lain Program Pegawai Relawan (Employee Volunteer Program). Karyawan HSBC bersama The Save Aceh Foundation, membantu renovasi bangunan sekolah serta pembangunan kembali sekolah dasar di Lamprit, Banda Aceh.
Untuk Nasabah Personal:
Hubungi kami di
(+6221) 5291 4722
0804-1-86-4722
64722 (from telepon selular)
Untuk Nasabah Korporasi:
Hubungi kami di
(+6221) 2551 4777
0807-1-86-4722
0807-1-TO-HSBC